Bencana Banjir Melanda : Relawan TIK Sumatera Barat Imbau Masyarakat Jaga Etika Digital

Sumatera Barat, – Dalam situasi darurat banjir bandang yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, aktivitas masyarakat di ruang digital meningkat tajam. Banyak warga membagikan informasi, melakukan siaran langsung, hingga mengunggah ulang konten terkait kondisi bencana. Namun di tengah upaya saling membantu, Relawan TIK Sumatera Barat mengingatkan pentingnya menjaga etika digital demi menghindari kepanikan dan mencegah penyebaran informasi yang keliru.

Rahmad Saputra, Sekretaris Relawan TIK Sumatera Barat, menyampaikan bahwa ruang digital memiliki peran penting dalam proses tanggap darurat. Namun penggunaan yang tidak bijak justru dapat memperburuk keadaan.


“Kami memahami bahwa masyarakat ingin membantu. Namun konten yang tidak diverifikasi, ditambah dorongan untuk cepat viral atau mencari engagement, justru bisa menyebabkan disinformasi dan meningkatkan kepanikan. Dalam situasi bencana, setiap informasi harus dibagikan dengan penuh tanggung jawab,” tegas Rahmad.

Fenomena Konten yang Berisiko Picu Kepanikan

Relawan TIK mencatat beberapa kecenderungan belakangan ini:

  • Masyarakat membagikan video tanpa sumber jelas

  • Siaran langsung di lokasi bencana tanpa mempertimbangkan keamanan evakuasi

  • Unggahan yang menampilkan korban tanpa izin keluarga

  • Konten dramatis yang lebih mengutamakan sensasi daripada akurasi

  • Repost cepat tanpa melakukan pengecekan fakta

Perilaku seperti ini dapat memicu hoaks, misinformasi, dan keresahan publik, terutama saat masyarakat membutuhkan informasi yang akurat, valid, dan menenangkan.

Panduan Etika Digital di Situasi Darurat

Relawan TIK Sumbar mengimbau masyarakat untuk menerapkan etika bermedia digital sebagai berikut:

  1. Verifikasi sebelum membagikan. Pastikan informasi berasal dari sumber resmi: BPBD, BNPB, BMKG, Pemda, TNI/Polri, atau lembaga kemanusiaan terpercaya.

  2. Dahulukan keselamatan, bukan sensasi. Jangan melakukan live streaming atau pengambilan video yang mengganggu proses evakuasi atau justru membahayakan diri sendiri.

  3. Jaga privasi korban. Hindari menampilkan wajah korban luka atau meninggal, terutama sebelum data resmi dirilis.

  4. Gunakan bahasa empatik. Ingat bahwa banyak warga sedang mengalami trauma. Hindari narasi hiperbolik dan provokatif.

  5. Bagikan informasi yang bermanfaat. Seperti lokasi pengungsian, kebutuhan logistik, kontak darurat, atau update resmi dari pemerintah.

  6. Waspadai akun yang mencari keuntungan. Jangan mengikuti atau memviralkan akun yang memanfaatkan tragedi untuk mendapatkan like, viewer, atau monetisasi.

Peran Warga Sangat Penting

Menurut Rahmad Saputra, masyarakat berperan besar dalam menjaga kualitas ruang digital saat bencana:

“Di masa krisis, setiap unggahan dapat memengaruhi persepsi publik. Pilih untuk menjadi warga digital yang membantu, bukan memperkeruh situasi. Informasi yang benar dapat menyelamatkan nyawa,” ungkapnya.

Ajak Kolaborasi untuk Ruang Digital yang Aman

Relawan TIK Sumatera Barat mengajak seluruh warga, komunitas, dan media lokal untuk:

  • Mendukung penyebaran informasi resmi

  • Melaporkan konten hoaks atau menyesatkan

  • Mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitar

  • Menguatkan solidaritas melalui ruang digital yang positif

Bencana adalah ujian bersama, dan kolaborasi masyarakat—baik secara langsung maupun di dunia digital—menjadi kekuatan penting untuk saling menguatkan.